Berhaji Dalam 4 Hari ?? Mungkinkah Itu Dilakukan ?
April 10, 2018
Denda Haji Tamattu
April 10, 2018
Show all

Berhaji Di Bulan Lain, Bisakah Itu ?

Bagaimana dengan Berhaji Di Bulan Lain ?? Haji memang hanya dilakukan dalam tiga bulan utama saja yaitu Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. Namun yang dimaksudkan di sini adalah mengenai ibadah haji yang bisa dilakukan sejak bulan Syawwal berturut-turun ke bulan di depannya, Dzul Qa’dah, kemudian di bulan berikutnya setelah itu, Dzul Hijjah.

Tetapi puncak ibadah haji adalah hari Arafah yang terjadi pada tanggal 9 Dzul Hijjah. Suka atau tidak puncak ibadah haji ini harus diikuti oleh siapapun yang ingin melakukan ibadah haji. Karena inti dari ibadah haji adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Jika karena berbagai alasan tidak bisa datang ke Padang Arafah pada hari itu, maka ibadah hajinya batal.

Saking pentingnya, mereka yang ibadah haji dan sedang sakit keras pada 9 Dzul Hijjah pun akan disafari wukufkan dengan dinaikkan pada ambulan lalu masuk ke Arafah. Yang penting anda sudah masuk area Arafah meski hanya sebentar saja yaitu semenjak matahari tergelincir di tengah hari di tanggal 9 Dzulhijjah, wuqufnya sudah sah. Dan hajinya pun sah.

Dan apabila semenjak 1 Syawwal anda sudah siap sedia di Arafah hingga 3 bulan lamanya, tapi jika pada 9 Dzul Hijjah anda malah tak berada di Arafah, maka sesuai Sabda Rasulullah, tidak ada ibadah haji untuk orang tersebut. Dan tentu Berhaji Di Bulan Lain percuma dilakukan.

 

Lagi pula sebenarnya yang rawan berdesakan itu bukan pada hari Arafah, sebab Padang Arafah itu cukup luas untuk dihadiri secara bersama oleh 2 juta jamaah haji.Yang rawan adalah pada saat melempar jamarah di Mina, yaitu pada tanggal 10, 11, 12 atau 13 Dzulhijjah. Sebab dari segi komposisi ibadahnya, dalam teknis melempar jamarat itu, setiap orang dari 2 juta orang harus satu persatu melakukannya pada 3 titik berbeda secara berurutan.

Jumlahnya ada 3 titik, yaitu Ulaa, Wustha dan Aqabah. Jumlah lemparannya masing-masing ada 7 lemparan batu kerikil. Jadi sekali berangkat melontar harus menyiapkan 7×3 batu yang berbeda untuk dilakukan di tiga titik berbeda yang saling berdekatan.

Kalau yang melakukannya 10 atau 20 orang, barangkali tidak pernah ada masalah. Tapi bayangkan kalau dilakukan pada jam yang sama oleh 2 juta orang dari berbagai bangsa yang berbeda. Beda bahasa, beda perilaku, beda gaya dan beda strategi melempar. Tentu saja urusannya menjadi hiruk pikuk. Apalagi bentuknya melempar batu. Maka semakin seru saja suasana di Mina.

Apalagi kalau mengingat ukuran luas wilayah jamarat yang memang terbatas serta sulit dimodifikasi lagi. Padahal selama ini pemerintah Saudi Arabia telah berinisiatif membuat tempatnya menjadi dua lantai, namun tetap saja titik tempat melempar jamarat adalah titik yang paling rawan.

Mina sendiri pun juga tidak terlalu luas wilayahnya. Sedangkan para jamaah haji tidak tinggal di dalam gedung, melainkan di tenda. Senyaman apapun tenda, tetap saja tenda dengan segala kekurangannya.

Namun kota Makkah, kota Madinah dan Masjid Al-Haram sendiri sangat berbeda suasananya. Tempat-tempat itu penuh dengan gedung megah pencakar langit, demikian juga masjid Al-Haram. Dibangun dengan teknologi tercanggih yang pernah dikenal manusia. Sama sekali tidak ada masalah dengan tempat-tempat itu. Dan selama hampir 40-an hari, para jamaah haji tinggal di Makkah dan Madinah. Kecuali pada tanggal 9 s.d. 13 Dzulqa’dah, barulah mereka berada di Padang Arafah, Muzdalifah dan Mina. Pada hari-hari itulah biasanya rawan terjadi apa yang tidak kita inginkan.

Namun ide untuk mengubah acara puncak haji di luar tanggal 9 s/d 13 Dzul Hijjah adalah ide yang keluar dari syariah haji. Pastilah ide ini akan mengundang kontroversi yang berujung kepada kegagalan. Sebab ritual ibadah haji sudah baku dari segi tanggalnya.

Maka kemungkinan terbesar adalah merekonstruksi teknis pelaksanaannya di lapangan. Misalnya mengadakan studi besar-besaran demi menjaga alur jamaah haji ketika melempar jamarah. Dan ide ini setiap saat terbuka untuk terus diperbaharui. Nah itulah jawaban untuk pertanyaan Berhaji Di Bulan Lain. Semoga bermanfaat.

Ads :

Ayo Berlibur ke tempat wisata favorit dan menjelajahi tempat-tempat eksotik nan indah bersama amicaletravel. Tersedia produk-produk perjalanan wisata ke banyak lokasi wisata terkenal di seluruh dunia.

Hubungi kantor kami di : Jalan Cut mutia no 9 Gondangdia Sofyan Hotel Betawi Lt.2, DKI Jakarta, 10330 Telp./Fax : +62-21-3190-7615 Email : tours@amicaletravel.com

Comments are closed.

WhatsApp chat