Menggapai Hidayah Allah
March 2, 2018
Dokumen Haji dan Umrah Yang Harus Dipersiapkan
March 3, 2018
Show all

Sejarah Ka’bah, Yuk Dibaca Artikel Ini Selengkapnya

Siapa tak kenal ka’bah, bangunan tempat ibadah pertama yang didirikan oleh manusia di dunia ini. Ka’bah telah berusia ribuan tahun dan telah mengalami renovasi berulang kali. Kini kita melihat betapa megahnya bangunan ka’bah berikut gedung-gedung lainnya di sekeliling ka’bah. Namun Sejarah Ka’bah memiliki cerita tersendiri dan sebagian dari itu kami coba ceritakan di sini. Silakan di simak, semoga perjalanan kita ke baitullah senantiasa menjadi perjalanan yang kita nantikan untuk kembali lagi di kesempatan yang lain.

Lokasi Awal Pendirian Ka’bah

Sungguh tidak dapat dipercaya akal sehat jika dahulunya tempat keberadaan kakbah sekarang ini adalah sebuah gurun pasir luas yang sangat tandus. Sejarah pendirian kakbah dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim as. Beliaulah seorang Nabi yang menjadi tokoh penting bagi 3 agama di dunia. Beliau ini menyandang gelar ‘Bapaknya Para Nabi’ karena telah menurunkan beberapa putra yang kemudian menjadi Nabi.

Perjalanan sejarah Ka’bah sungguh tidak singkat. Ia menembus batas waktu dan zaman. Beberapa generasi sempat memperlakukan kakbah sesuai peradabangty pada zamannya. Hingga saat ini ketika Saudi Arabia dikuasai oleh Kerajaan Saudi yang dipimpin Raja Fahd dan keturunannya, Ka’bah ikut mengalami pembangunan. Hal tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah setempat memfasilitasi para jamaah haji dan umrah yang membuat kota Mekkah tidak pernah sepi.

Dahulu ketika Nabi Ibrahim as masih muda, beliau memiliki dua orang istri. Istri pertamanya adalah Siti Sarah. Sementara yang muda bernama Siti Hajar. Dari perut istri kedua beliau inilah sejarah kakbah dimulai. Siti Hajar memberikan Ibrahim as keturunan laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail. Pada waktu bersamaan, Siti Sarah belum dapat mengaruniai Ibrahim as seorang putra pun.

Konon ceritanya, Siti Hajar bersama Ismail ditinggalkan Ibrahim as di tengah padang pasir tandus. Mereka berdua tidak lantas mengeluh dan menyalahkan Tuhan atau pun Ibrahim as sebagai kepala rumah tangga. Siti Hajar adalah seorang perempuan kuat. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia terus berlari mencarikan anaknya air untuk bertahan hidup.

Bagaimana mungkin ada sumber air bersih di tengah padang pasir ?. Ketidak mungkinan ini tidak dihiraukan oleh Siti Hajar. Wanita tersebut dengan gigih terus mencarikan sumber air agar Ismail tidak menangis karena kehausan. Ia berlarian di antara bukit Sofa dengan Marwa yang terletak di sana. Sampai sekarang orang Islam yang menunaikan ibadah haji di kakbah harus juga melaksanakan lari-larian kecil di antara kedua bukit tersebut. Kewajiban ini masuk ke dalam rukun haji yang dinamakan sa’I sebagai upaya mengingat perjuangan Siti Hajar.

Hajar Aswad dan Kakbah (Sejarah Ka’bah)

Di area ka’bah terdapat sebuah batu hitam yang dalam bahasa Arab dinamai Hajar Aswad. Batu yang dipercaya berasal dari surga ini diletakkan pada salah satu sisi ka’bah. Sebelumnya, Hajar Aswad yang sudah ada di masa Nabi Adam as dan Siti Hawa datang ke bumi berada di bukit Qubays akibat banjir bandang semasa Nabi Nuh as. Keberadaan batu hitam ini di kawasan kakbah seringkali mengundang salah paham bagi penduduk negara non muslim yang mayoritas membenci kehidupan agama Islam.

Para anti muslim yang kebanyakan berada di benua Amerika dan Eropa banyak yang memanfaatkan keberadaan Hajar Aswad sebagai alasan menyerang Islam. Beberapa golongan menuduh Islam sebagai agama penyembah berhala, tidak jauh beda dengan orang-orang Arab di zaman dahulu. Bukankah pada zaman kenabian Ibrahim as dan nabi-nabi lain masyarakat di sana mengagungkan kekuatan berhala ? Bahkan mereka memiliki adat-adat yang lebih meninggikan berhala daripada anak dan keluarganya sendiri.

Saat ini, milyaran manusia dari seluruh dunia berebut mencium Hajar Aswad. Batu itu dulunya dipercayai berwarna putih bersih. Namun karena saking banyaknya dosa manusia yang menciuminya, batu tersebut menghitam. Rasulullah Muhammad SAW sebagai Rasul utama dalam agama Islam pun menciumi Hajar Aswad ketika berhaji. Tindakan ini diikuti oleh para muslimin sampai sekarang.

Bukan berarti menciumi Hajar Aswad, mengelilingi ka’bah dan menangis ketika berdo’a di area Masjidil Haram berarti Islam mengajarkan kebiasaan jahiliyah kuno. Para mukmin melaksanakan tindakan-tindakan tersebut justru untuk menambah kekhusyukan dalam beribadah haji. Ada esensi alias makna mendalam yang didapatkan pada waktu menunaikan ibadah haji. Dengan cara menciumi Hajar Aswad, mengagumi ka’bah, melaksanakan sa’i dan rukun haji yang lain itu berarti penganut Islam sedang berusaha mendekatkan diri pada Tuhannya melalui media terdekat yang dapat disentuhnya. Itulah sekelumit Sejarah Ka’bah semoga bermanfaat.

Ads :

Ayo Berlibur ke tempat wisata favorit dan menjelajahi tempat-tempat eksotik nan indah bersama amicaletravel. Tersedia produk-produk perjalanan wisata ke banyak lokasi wisata terkenal di seluruh dunia.

Hubungi kantor kami di : Jalan Cut mutia no 9 Gondangdia Sofyan Hotel Betawi Lt.2, DKI Jakarta, 10330 Telp./Fax : +62-21-3190-7615 Email : tours@amicaletravel.com

 

 

WhatsApp chat