Aturan Berihram, Sederhana Namun Sarat Makna
January 8, 2018
Megahnya Kota Madinah Sukar Diungkapnya dengan Kata-Kata
January 8, 2018
Show all

Haid Ketika Sedang Haji, Bagaimana Hukumnya?

Haid Ketika Sedang Haji, Bagaimana Hukumnya?

Bagaimanakah hukumnya haid ketika sedang haji ? Hal ini akan kita bincangkan pada postingan kali ini. Berhaji merupakan ibadah yang disarankan ketika seseorang sudah cukup harta dan memiliki kemampuan secara fisik untuk melaksanakannya. Lantas bagi perempuan, apa hukumnya jika ia haid ketika sedang melaksanakan haji.

Saat Aisyah ra sedang haid, Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji, selain dair melakukan tawaf di Ka`bah hingga engkau suci.” (HR Muttafaq a`laih).

Lalu, bagaimana jika saat berhaji datang haid pada Muslimah? Di antara syarat sah tawaf adalah suci dari hadas kecil dan besar. Dengan demikian, orang yang bertawaf pada dasarnya, harus bersih dari haid dan nifas. Kesucian semacam ini merupakan syarat sah tawaf menurut sebagaian besar ulama. Orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci, tawafnya menjadi batal.

Berdasarkan pandangan ini, dalam Madzhab Syafii disebutkan, “Wanita haid yang belum melakukan tawaf ifadah harus bertahan di Makkah hingga suci. Kalau ada bahaya yang mengancam atau hendak pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadah, ia harus tetap dalam keadaan ihram hingga kembali ke Makkah untuk bertawaf walau beberapa tahun kemudian.” (Kitab Al-Majmu` juz 8, hal. 200).

Sementara menurut kalangan Hanafi, suci dalamtawaf hukumnya wajib. Karena itu, orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci seperti wanita yang sedang haid dan nifas, tawafnya sah, tetapi harus membayar dam (denda). Mereka berdalil dengan firman Allah SWT, “Hendaknya mereka melakukan tawaf di sekitar Ka`bah Baitullah itu.” (QS Al-Hajj [22] ayat 29). Menurut mereka ayat tersebut memerintahkan tawaf secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan syarat kesucian.

Jika darah haidnya tidak keluar terus-menerus dan sempat berhenti untuk beberapa hari, pada masa itulah ia bertawaf. Ini sesuai dengan pandangan kalangan Syafiiah yang menyatakan, kondisi bersih pada hari-hari terputusnya haid dianggap suci.

Terakhir, Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim berpendapat, tawaf ifadah wanita haid adalah sah jika memang kondisinya terpaksa, seperti ia harus pergi bersama rombongan untuk meninggalkan Makkah. Syaratnya, ia harus membalut tempat keluarnya darah.

Ads :

Ayo umrah ke tempat wisata favorit dan menjelajahi tempat-tempat eksotik nan indah bersama amicaletravel. Tersedia produk-produk perjalanan wisata ke banyak lokasi wisata terkenal di seluruh dunia.

Hubungi kantor kami di : Jalan Cut mutia no 9 Godangdia Sofyan Hotel Betawi Lt.2, DKI Jakarta, 10330 Telp./Fax : +62-21-3190-7615 Email : tours@amicaletravel.com

WhatsApp chat