Panduan Memilih Road Bike Murah
November 17, 2017
Asian Games Sebagai Event Sepeda Tahun 2018 dan Strategi Pemenangannya
November 19, 2017
Show all

Gowes Sepedamu di Bukit Kintamani, Petualangan Spektakuler Bro

bukit kintamani

Ubud- Bukit Kintamani jadi destinasi turis yang ingin menyepi dari keramaian pantai seperti Kuta. Tapi, cara asyik menikmati Ubud tak hanya dengan jalan kaki. Traveler bisa bersepeda dari Kintamani, melewati jalan pedesaan yang asri.

Bulu kuduk saya berdiri di tengah terpaan angin Bukit Kintamani di Kabupaten Bangli, Bali. Danau Batur tampak jelas dari atas sini, dekat dengan kaldera Gunung Batur yang menganga lebar. Namun kali ini, saya tak akan menyambangi danau atau kaldera yang masuk dalam Global Geopark Network (GGP) UNESCO itu.

Agenda yang sama asyiknya sudah menunggu: bersepeda dari Kintamani ke Ubud. Bukan, bukan lewat jalur mobil dengan medan naik-turun yang tak berkesudahan itu. Saya akan melintasi jalan pedesaan yang didominasi turunan, 25 Km, selama 3 jam perjalanan.

“Kita akan melewati jalan desa. Tenang saja, kalaupun ada tanjakan, kita pakai mountain bike. Nanti akan diajarkan cara pindah gigi sepedanya ya,” tutur Budi, Tour Leader dari Bali Sobek sebagai penyelenggara Cycling Tour Kintamani-Ubud.

Ada beberapa peserta hari itu, mayoritas turis asing. Namun peraturan yang berlaku di Bali Sobek, beda rombongan berarti beda lagi Tour Leader-nya. Meski pesertanya hanya berdua seperti saya sekarang, Tour Leader-nya hanya 1 orang untuk menjaga eksklusivitas. Traveler pun langsung dijemput menggunakan mobil Bali Sobek di hotel tempat menginap, pagi hari sekitar pukul 07.00 Wita.

Tapi sebelum gowes sepeda, saatnya mengisi perut dengan sarapan. Aneka makanan mulai dari nasi dengan lauk pauk, mie goreng, sampai pisang goreng tersaji di restoran Madu Sari, Bukit Kintamani. Saya pun melahap beberapa potong pisang goreng dan secangkir kopi Bali.

Mobil melaju ke Desa Padpadan, starting point cycling tour Kintamani-Ubud. Tiap peserta dipinjamkan sepeda gunung. Selain mengajarkan cara ganti gigi sepeda, Pak Budi juga meminjamkan helm dan memberi sebotol air mineral untuk persediaan di jalan.

Perjalanan pun dimulai. Sekitar 6 Km pertama, jalanan menurun namun rusak dan penuh kerikil. Traveler harus ekstra hati-hati melewati jalan ini, tak perlu mengebut. Begitu jalanan rusak dilewati, panorama pesawahan membentang luas. Udara pegunungan memenuhi paru-paru.

“Di depan kita akan belok kiri, tanjakan cukup curam. Siap-siap ganti gigi,” kata Pak Budi.

Butuh penyesuaian bagi traveler yang jarang menggunakan sepeda gunung, saya misalnya. Meski sempat terjatuh, akhirnya saya menemukan gigi yang pas untuk tanjakan itu. Perhentian pertama adalah Pura Jagaraga, yang paling dikeramatkan di Desa Jagaraga, Bukit Kintamani.

“Pura ini sudah berumur 130 tahun. Terlihat kan dari lumut di gerbang depannya? Pura ini masih jadi tempat sembahyang. Tapi kita tak boleh masuk ya, di gerbangnya saja,” papar Pak Budi.

Masih melintasi jalan desa, perjalanan berlanjut ke Gianyar. Rupanya saya mengikuti Cycling Tour pada waktu yang tepat, 1 hari sebelum Nyepi. Saya menemukan banyak ogoh-ogoh, patung besar representasi roh. Bentuk dan warnanya beragam, meski semua wajahnya buruk rupa.

“Gianyar terkenal oleh kelihaian tangan senimannya. Bisa dilihat dari ogoh-ogoh yang mereka buat,” kata Pak Budi di Bukit Kintamani.

Perjalanan berlanjut melintasi pemukiman dan pesawahan dengan pura cantik di sisinya. Menurut Pak Budi, setiap desa minimal punya 3 pura. Masing-masing untuk menyembah Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Tak terasa sudah 2 jam saya menggowes sepeda. Sebelum tiba di finish point yakni Desa Sanding, Ubud, Pak Budi mengajak saya mampir di salah satu rumah warga Bali. Rumah itu terletak di Desa Cagan, Gianyar. Sambil melihat-lihat komponen rumah adat Bali yang punya 5 bangunan, sang empunya rumah membawakan saya kelapa muda. Segar!

Sebelum sampai di finish point Bukit Kintamani, saya melewati salah satu istana Presiden yakni Tampaksiring. Meski hanya bisa mengintip dari gerbang depan, saya bisa melihat pohon-pohon pinus berderet cantik bagai Eropa di musim panas.

Tak terasa 3 jam sudah saya menggowes sepeda. Di finish point, handuk dingin diberikan untuk menyegarkan badan. Mobil kemudian mengantar saya ke restoran Saren Indah untuk makan siang. Ada salad & sup sebagai appetizer, nasi campur Bali untuk main course, juga pisang goreng & buah segar untuk dessert.

Letih dan kenyang, saya pun diantar kembali ke penginapan. Total, Cycling Tour Bukit Kintamani ini berlangsung mulai 07.00-15.00 WITA. Harga per orangnya Rp 350.000 (domestik) dan Rp 450.000 (mancanegara). Sebanding dengan pengalaman yang didapatkan, melihat pedalaman Bali secara lebih intim dan dekat!

Ads :

Yuk jalan-jalan dan menjelajahi tempat-tempat eksotik nan indah bersama amicaletravel. Tersedia produk-produk perjalanan wisata ke banyak lokasi wisata terkenal di seluruh dunia.

Hubungi kantor kami di :

Jalan Cikini Raya No.60, FGMN, Gedung Arva LT Basement Telp 021-390-97-86 Email : tours@amicaletravel.com

WhatsApp chat